MaMa
Karangan yang dulu gw bikin buat ikut lomba essay tentang Ibu di salah satu majalah.
Neway... ga pernah gw kirim..
Malu..
Waktu saya kecil saya selalu berpikir kalau saya ingin menjadi seperti mama saat saya besar nanti. Tapi saat saya beranjak dewasa saya mulai ragu atas keputusan saya itu, karena semakin lama saya merasa kalau mama jadi semakin bawel dan menyebalkan.
Saya tahu kalau mama tetap sayang sama saya, tapi saya tidak bisa menghilangkan rasa sebel karena mama sering ngomelin saya. Umur saya sudah 22 tahun tapi saya masih diperlakukan seperti anak kecil. Setiap kali saya hendak pergi bersama teman � teman, saya harus beradu argumen terlebih dahulu sebelum akhirnya diijinkan. Meskipun demikian tetap saja mama akan menelepon saya berulang � ulang dan menyuruh saya pulang. Belum lagi ocehan � ocehan panjang lainnya setiap kali saya pulang sedikit terlambat atau ketahuan belum tidur saat larut malam.
Suatu hari saya pulang kuliah dan mendapatkan mama sedang berbaring sambil meringis kesakitan. Ternyata pinggang mama keseleo waktu di kantor. Hanya dengan membayangkan sakitnya pun membuat saya ikut merinding. Barangkali karena menahan sakit, malam itu mama jadi semakin bawel. Hal itu membuat saya menjadi bertambah kesal walaupun dalam hati saya merasa kasihan. Tapi ternyata esok paginya saya melihat mama sedang bersiap � siap untuk ke kantor, walaupun masih mengernyit merasakan sakitnya. Seluruh rumah kemudian memaksa mama untuk tidak usah ke kantor dan beristirahat di rumah, tetapi mama menolak. Akhirnya mama menjelaskan kalau sebisa mungkin mama selalu berusaha menjadi karyawan yang baik, sehingga mama bisa terus bekerja dan membiayai anak � anaknya.
Saya sangat terharu mendengarnya. Ternyata walaupun berubah menjadi galak, mama saya tetap merupakan mama yang terhebat di dunia. Sejak saat itu saya berusaha untuk tidak membantah setiap kali dimarahi, karena saya tahu kalau saya mau menjadi seperti mama suatu saat nanti.
Neway... ga pernah gw kirim..
Malu..
Waktu saya kecil saya selalu berpikir kalau saya ingin menjadi seperti mama saat saya besar nanti. Tapi saat saya beranjak dewasa saya mulai ragu atas keputusan saya itu, karena semakin lama saya merasa kalau mama jadi semakin bawel dan menyebalkan.
Saya tahu kalau mama tetap sayang sama saya, tapi saya tidak bisa menghilangkan rasa sebel karena mama sering ngomelin saya. Umur saya sudah 22 tahun tapi saya masih diperlakukan seperti anak kecil. Setiap kali saya hendak pergi bersama teman � teman, saya harus beradu argumen terlebih dahulu sebelum akhirnya diijinkan. Meskipun demikian tetap saja mama akan menelepon saya berulang � ulang dan menyuruh saya pulang. Belum lagi ocehan � ocehan panjang lainnya setiap kali saya pulang sedikit terlambat atau ketahuan belum tidur saat larut malam.
Suatu hari saya pulang kuliah dan mendapatkan mama sedang berbaring sambil meringis kesakitan. Ternyata pinggang mama keseleo waktu di kantor. Hanya dengan membayangkan sakitnya pun membuat saya ikut merinding. Barangkali karena menahan sakit, malam itu mama jadi semakin bawel. Hal itu membuat saya menjadi bertambah kesal walaupun dalam hati saya merasa kasihan. Tapi ternyata esok paginya saya melihat mama sedang bersiap � siap untuk ke kantor, walaupun masih mengernyit merasakan sakitnya. Seluruh rumah kemudian memaksa mama untuk tidak usah ke kantor dan beristirahat di rumah, tetapi mama menolak. Akhirnya mama menjelaskan kalau sebisa mungkin mama selalu berusaha menjadi karyawan yang baik, sehingga mama bisa terus bekerja dan membiayai anak � anaknya.
Saya sangat terharu mendengarnya. Ternyata walaupun berubah menjadi galak, mama saya tetap merupakan mama yang terhebat di dunia. Sejak saat itu saya berusaha untuk tidak membantah setiap kali dimarahi, karena saya tahu kalau saya mau menjadi seperti mama suatu saat nanti.


0 Comments:
Post a Comment
Links to this post:
Create a Link
<< Home